Menunggu

“Ku menunggu… Ku menunggu kau putus dengan kekasihmu…

Tak akan ku ganggu kau dengan kekaksihmu…”

 

Eh, stop… stop… stop…

Hadooh,,, kenapa jadi nyanyi lagunya Rossa ya, huft… terlalu lama menunggu sih!

Siapa yang pernah menunggu? Menunggu bus, menunggu teman, menunggu hujan, menunggu kuburan. Eh, salah… :p

Maksud dari kata menunggu yang akan di bahas di sini adalah, menunggu teman🙂

Pada dasarnya, aku termasuk orang yang tidak sabaran. Bagiku, menunggu adalah pekerjaan yang sangat ku benci. Tapi, jika aku yang sedang di tunggu oleh teman, hm… hal itu juga aku tidak suka. Jadi, aku sangat tidak suka menunggu dan ditunggu. Keduanya membuat aku merasa tidak nyaman.

Mungkin bagi sebagian orang hal itu bisa di atasi sambil membaca buku, mendengarkan musik, atau tilawatil qur’an. Tapi bagiku, menunggu tidak bisa di kerjakan berbarengan dengan hal-hal yang telah kusebutkan tadi.

 

Sudah sejak SMP aku selalu jadi penunggu teman. Saat itu, aku biasa berangkat sekolah bertiga. Nah, di antara kami bertiga ada satu orang yang selalu tidak tepat waktu. Ketika aku datang ke rumahnya untuk berangkat sekolah bersama, ternyata dia baru selesai mandi, belum makan, belum rapi2, de el el. Tidak hanya berangkat sekolah, terkadang ketika pulang sekolah pun, dia menjadi murid yang paling lama keluar kelas. Entah itu karena dia belum selesai mencatat, giliran piket, atau lainnya Sebenarnya bisa saja kami bedua meninggalkan dia seorang diri, tapi kami merasa tak enak. Akhirnya selama kurang lebih 3 tahun, kami selalu menunggunya.

 

Dan kini, setelah aku lulus kuliah dan mulai bekerja, aku kembali menunggu. Memang tidak sesering ketika masa-masa SMP. Hal ini terjadi hanya ketika aku punya janji bertemu dengan teman-temanku. Sudah beberapa kali aku mengalaminya.

Pernah saat itu, aku janjian di tempat yang panas dan terik. Sedang temanku tak juga datang. Sebenarnya aku bisa saja pindah dan mencari tempat yang lebih teduh. Tapi entah kenapa, jika aku sedang menunggu, aku tak bisa meninggalkan tempat yang sudah dijanjikan oleh kami. Karena aku khawatir kami hanya akan saling mencari dan akhirnya tidak bertemu.

Yang lebih parah, jika salah satu dari kami tak ada yang membawa handphone atau handphone nya mati. Huft, tak terbayang rasanya. Seperti kejadian kemarin, saat aku janji bertemu dengan salah seorang teman untuk buka puasa bersama. Kami janji bertemu di toko buku di sebuah mall. Namun ternyata, temanku akan datang terlambat dan handphone nya mati. Walhasil, sampai bedug maghrib berkumandang dia belum datang juga. Karena berlomba dengan waktu sholat maghrib, akhirnya ku putuskan untuk sholat dulu di mushola. Selesai sholat barulah dia telpon menanyakan keberadaanku. Ternyata handphone nya sempat dia isi ketika mampir di counter Hp. Kalau mengingat kejadian itu, kadang ingin tertawa juga. Begitu nekatnya kami memaksakan janji pertemuan padahal salah satu dari kami sedang bermasalah dengan alat komunikasi.

 

Huft,,, semoga saja untuk ke depannya aku tidak lagi menunggu. Entah kenapa, sebagian orang di Indonesia selalu membiasakan diri untuk telat. Dalam rapat, janji klien, dateline, de el el.

Semoga aku juga bisa lebih menghargai waktu🙂

Posted on 27 Agustus 2012, in my note. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. “menunggu adalah pekerjaan yang sangat ku benci.” jangan dijadiin kerjaan dong mba… -_-

  2. haha,,, soalnya menurut aturan bahasa indonesia, menunggu termasuk kelompok kata kerja ;p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: