A Thousand Words

Kali ini aku akan mencoba menulis tentang sinopsis film. Aku suka film yang bertema keluarga, action, drama, dan komedi. Jadi, untuk yang pertama ini aku akan membahas film keluarga, A Thousand Words yang di bintangi oleh Eddie Murphy. Hm aku tidak tahu kapan film ini dirilis, entah film baru atau film lama. Dan cerita ini dimulai…

 

Jack McCall (Eddie Murphy) seorang agen penerbitan buku. Kesehariannya selalu bicara, bicara, dan bicara. Bahkan ketika mengunjungi terapi (psikolog) nya, dia tak memberi kesempatan pada terapi nya untuk bicara, hanya dia yang terus menerus bicara, haha. Bahkan ketika penjaga mobil di kantornya mempertanyakan buku yang dikirimkan kepada Jack untuk diterbitkan, dia selalu menghindarinya dengan mengatakan dia tak sempat membacanya. Yup, Jack selalu banyak bicara tapi tak pernah mencoba membaca buku yang akan di rekrutnya (padahal itu merupakan tugasnya). Bahkan di rumah pun tak pernah ia mendengarkan apa keinginan istrinya (Kerry Washington) yang sebenarnya untuk kepentingan keluarganya.

Dan semua kehidupannya mulai berubah ketika bertemu dengan Dr. Sinja (Cliff Curtis), seorang pakar ketenangan jiwa (hm, istilahnya apa ya… ahli yoga, ahli semedi, ahli spiritual, atau apa gitu.. :p). Semua dikarenakan Dr. Sinja mempunyai banyak penggemar sehingga Jack ingin menerbitkan buku Dr. Sinja yang dianggapnya akan menjadi kesuksesannya. Maka, di mulailah pendekatan dengan mengikuti pelatihan yoga di tempat Dr. Sinja.

Buku yang di janjikan oleh Dr. Sinja akhirnya dikirim ke kantor Jack, yang ternyata hanya berisi lima lembar. Itu pun dengan ukuran kertas ¼ nya ukuran A4, jadi mirip brosur : ) Tentu saja Jack tidak terima. Ketika dia sedang memprotes Dr. Sinja mengenai bukunya yang hanya lima lembar, Jack menempelkan tangannya ke sebuah pohon dan tangannya jadi terluka, darahnya menempel pada pohon itu.

Di rumah, ketika sedang berbincang dengan istrinya, tiba-tiba ada pergerakan tanah seperti gempa. Dan ternyata, di halaman belakang rumahnya tiba-tiba tumbuh sebuah pohon yang sama, dengan pohon yang dia sentuh saat di tempat Dr. Sinja (ajaibnya pohon itu tidak mulai dari tunasnya dulu, tapi langsung keluar dari tanah dan jadi sebuah pohon ‘dewasa’ :D). Tentu saja Jack heran dengan asal muasal pohon tersebut, kemudian dia menanyakan langsung kepada Dr. Sinja dan membawanya ke rumah untuk melihat pohon tersebut. Ternyata Dr. Sinja pun tidak tahu menahu mengenai asal usul pohon itu. Tapi satu hal yang ia ketahui, yaitu… pohon itu terhubung dengan tubuh Jack. Ketika Jack berbicara, maka daun-daunnya akan berguguran. Begitupun ketika Jack mencoba menebang pohon itu dengan sebuah kapak. Yang ternyata malah melukai tubuh Jack sendiri. “Lalu bagaimana jika daun-daunnya terus berguguran?” Tanya Jack. “Pohon itu akan mati” terang Dr. Sinja. Jleb… Kaget deh si Jack medengar pernyataan itu. “Berapa kira-kira jumlah daun yang tersisa di pohon ini?” tanya Jack. “mungkin sekitar 1000” Jawab Dr. Sinja.  SERIBU KATA yang tersisa bagi Jack untuk tetap hidup🙂 Dan sayangnya, Sinja harus pergi ke Bolivia selama tiga hari untuk bersemedi sehingga Jack dengan paniknya berkata “Hei, bagaimana denganku?” Hehe…

Dimulailah hari-hari Jack dengan diam seribu bahasa. Kejadian-kejadian lucu pun mulai terjadi, dimulai dari memesan kopi dengan bahasa isyarat, membantu orang buta menyebrang yang berakhir dengan lalu lintas yang kacau balau, pengakuan asistennya tentang hal-hal yang tidak diketahui Jack, pertemuan dengan klien yang berujung dengan tarian aneh dan banyak lagi hal lucu lainnya.

Lalu bagaimanakah Jack menjalani hidupnya tanpa bisa mengucapkan sepatah kata? Bagaimana kontrak dengan kliennya untuk menerbitkan buku Dr. Sinja yang ternyata hanya lima lembar saja (dan hal ini tidak diketahui oleh klien maupun atasannya) Lalu bagaimana dengan kehidupan keluarganya? Dan apakah akhirnya Jack akan mati? Well, sebaiknya kalian nonton sendiri ya. Hehe, kalau semua di ceritakan disini, akan sangat panjang ^_^

 

Sekarang, penilaianku tentang film A Thousand Words. Menurutku, film ini cukup menghibur walaupun humornya tidak sampai membuatku tertawa terbahak-bahak. Dan, seperti film-film Hollywood lainnya, pasti ada adegan-adegan yang harus disensor. Karena film ini bertema keluarga jadi adegan-adegan yang harus di sensor tidak terlalu banyak. Yah, tapi bagiku ini merupakan pengurangan poin ;p Jadi, secara keseluruhan, penilaianku tentang film ini 75 saja🙂

 

Setiap film yang kita tonton tentu selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil, begitupun dengan film ini.

Kata-kata menjadi tidak berarti jika tidak sesuai dengan perbuatannya. Misalnya, mengatakan mencintai keluarga tapi tak pernah meluangkan waktu dengan keluarga. Memanfaatkan kata-kata dengan bijak, seperti Jack yang akhirnya hanya memiliki beberapa kata untuk diucapkan sebelum kepergiannya. Bagi kita, memanfaatkan kata-kata misalnya dengan mengurangi mengeluh (Jlebb!) dan selalu mengatakan hal-hal yang baik, seperti dalam sebuah hadis, kalau tidak salah… “Berkata-katalah yang baik atau diam”. Selanjutnya, belajar memaafkan. Seperti Jack yang tidak pernah memaafkan ayahnya sedari kecil karena ketidakpedulian sang ayah pada keluarga. Hal itu yang membuatnya tidak merasakan ketenangan jiwa. Yah, jika tidak bisa memaafkan seseorang rasanya memang tidak menyenangkan.

Oke, aku rasa cukup untuk catatan kali ini. Selamat menonton ^_^

Posted on 30 September 2012, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: